Komplek Istana Kepresidenan Jakarta terletak di Jl. Merdeka Utara,
berdekatan dengan Taman Monumen Nasional (Monas); di jantung ibu kota negara,
di atas tanah seluas 6,8 hektar, di ketinggian lebih kurang 5 meter dari
permukaan laut.
Istana Kepresidenan Jakarta terdiri
dari dua bangunan istana, yaitu Istana Merdeka yang menghadap ke Monas, dan
Istana Negara, yang menghadap ke Sungai Ciliwung, Jl. Veteran, selain itu
terdapat pula bangunan lain dalam lingkungan Istana Jakarta, yaitu Kantor
Presiden, Wisma Negara, Masjid Baiturrahim, dan Museum Istana Kepresidenan
serta halaman yang ditumbuhi oleh pepohonan besar dan tua, yang berdaun rindang
dan berakar berjuntai, serta berkat rerumputannya yang menghampar laksana
permadani hijau, Istana Jakarta tampak teduh dan asri.
Istana Kepresidenan Jakarta fungsinya lebih difokuskan kepada kegiatan
resmi kepresidenan, selain sebagai kantor Presiden Republik Indonesia juga
sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan tempat penyelenggaraan acara-acara yang
bersifat kenegaraan, pelatikan pejabat-pejabat tinggi negara, pelantikan
perwira muda TNI, penerimaan tamu-tamu negara, penyerahan surat-surat
kepercayaan duta besar negara sahabat, pembukaan musyawarah dan rapat kerja
nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasional, dan sebagai
tempat memperingati Detik-Detik Proklamasi pada setiap tanggal 17 Agustus.
Istana ini banyak mencatat peristiwa, diantaranya : Jenderal de Kock
menguraikan rencananya untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan
merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol kepada Gubernur
Jenderal Baron van der Capellen, dan Gubernur Jenderal Johannes van de Bosch
menetapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel).
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 25 Maret 1947, di
gedung ini pula terjadi penandatanganan naskah Persetujuan Linggarjati, pihak
Indonesia diwakili oleh Sultan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.
Istana Merdeka dibangun pada tahun 1879, istanan ini banyak mencatat
peristiwa luar biasa dalam kehidupan pemerintahan Indonesia sehingga istana ini
lebih banyak mendapat keistimewaan di hati rakyat Indonesia. Salah satunya
adalah riwayat tentang nama istana itu sendiri, nama yang menggunakan kata
merdeka. Kata Merdeka bukan tiada atau hampa arti, kata merdeka laksana bara
asa bagi pertanda terlepasnya belenggu penjajahan di bumi Indonesia seraya
menjadi bangsa yang berdaulat.
Pada tanggal 27 Desember 1949, di Istana Merdeka terjadi peristiwa tentang
pengakuan atas kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Kerajaan Belanda
melalui serangkaian upacara resmi yang dilaksanakan dalam waktu yang sama, baik
di Belanda (Amsterdam pukul 10.00 waktu setempat) maupun di Indonesia (Jakarta
dan Yogyakarta waktu pukul 16.00 waktu setempat). Pada hari itu di berbagai
tempat dan penjuru tanah air, ratusan ribu pesawat radio menanti siaran dari
Jakarta yang membawa berita luar biasa itu. Serta merta terdengar berita
upacara penandatanganan dan penyerahan naskah tentang pengakuan atas kedaulatan
Republik Indonesia Serikat itu.
Dengan waktu bersamaan bendera Merah Putih berkibar di depan Istana Merdeka
sebagai pengganti bendera Belanda, lagu Indonesia Raya berkumandan, dan pekikan
"Merdeka, merdeka, merdeka", yang menggema di seluruh pelosok tanah
air, itu sebabnya istana bernama Istana Merdeka.
Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pertama kali
diadakan pada tahun 1950 tanggal 17 Agustus di Istana Merdeka.